Minggu, 27 Agustus 2017

Masa Lalu



“Kok mau sih temenan sama dia? Dia kan dulu blablabla”
Emm, masih banyak yang denger ginian ga yah?

Saya mungkin gaakan ngerasa bermasalah tentang masa lalu seseorang, karena, gimana ya, dia sudah menjadi versi-lebih-baik-dirinya setelah bermacam-macam peristiwa yang udah dilalui, macem “Terima kasih Ya Allah atas setiap masa yang engkau pilihkan pada kami, setiap pengalaman dan kejadian yang telah dilalui kini membentuk kami menjadi pribadi yang lebih baik dari masa yang telah kami lewati.” Malah kalo bisa berhubungan baik sama masa lalu tersebut.

Saya ngerasa kayak, perlu banget bersyukur. Misalnya aja, Fulan punya masa lalu yang kelam, karena sifatnya yang manja, dia salah memilih suatu keputusan yang pada akhirnya ngebawa dia dikeadaan antara hidup atau mati. Nah karena si Fulan sekarang masih hidup, berarti dia berhasil ngelewatin masa kelam itu (statement apa ini). Tapi, iya lho! Karena pengalaman itu jadinya kepribadian si Fulan terbentuk ke arah yang lebih baik, lebih berhati-hati, lebih bertanggung jawab, lebih dewasa, dsb. Mungkin malah, kalau gaada kejadian itu, si Fulan sekarang masih anak yang manja yang suka mengambil keputusan secara impulsif.

Nah terus, orang yang dengerin ceritanya si Fulan jadi terinspirasi, “duh, aku harus ngelatih diri supaya gak manja, biar gak kejadian kayak si Fulan!” Jadi bermanfaat, toh?

Makanya saya gak setuju sama statement, “Yang berengsek selamanya akan berengsek.”

Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berubah menjadi lebih baik. Bagaimanapun masa lalunya dahulu, sekelam apa lingkungannya dulu, dan seburuk apa perangainya di masa lampau. Berilah kesempatan seseorang untuk berubah.


Karena, seseorang yang hampir membunuh Rasul pun kini berbaring di sebelah makam beliau. : Umar bin Khattab


Jangan melihat seseorang dari masa lalunya. seseorang yang pernah berperang melawan agama Allah pun akhirnya menjadi pedang-nya Allah : Khalid bin Walid


Jangan memandang seseorang dari status dan hartanya. karena sepatu emas fir'aun berada di neraka. sedangkan sandal jepit bilal bin rabah terdengar di syurga.

(Ustad Yusuf Mansur)

Eh, btw keren amat yak sepatu dari emas, pas dipake gak lecet lecet ya kakinya? Jaman itu udah ada kaos kaki belum sih? Itu nanti kalo emasnya karatan kena kakinya si Fir'aun juga dong? Ga tetanus? #salahfokusssss



Makanya itu, saya pribadi gaakan menganggap teman yang udah lama gak saya ajak ngobrol adalah orang yang sama dalam setahun, dua tahun, atau lebih. Karena sepanjang itu, orang bisa saja berubah. Berubah ke arah baik atau buruk, wallahualam.
Who knows?

Kamis, 03 Agustus 2017

Starbucks History



Howard Schultz,
lahir di Brooklyn, New York pada tahun 1953. Schultz dibesarkan oleh kedua orang tuanya yang bekerja sebagai buruh. Keluarga Howard Schultz hidup serba kekurangan, bahkan ayahnya tidak bisa pergi ke dokter untuk berobat ketika pergelangan kakiknya patah. Pada saat itu ayahnya yang bekerja sebagai seorang supir jasa antar harus rela kehilangan pekerjaannya. Hal itu memperparah keadaan ekonomi keluarganya.

Howard Schultzsempat bekerja di Xerox sebagai sales dan perusahaan kopi asal swedia bernama Hammarplast sampai akhirnya mempertemukan dirinya dengan perusahaan kedai kopi kecil bernama Starbucks.
 
Dalam usahanya mengembangkan starbucks, proposalnya telah ditolak 242 kali oleh bank. jika sekali saja ia menyerah saat itu, maka sekarang tidak akan ada 20.891 cabang starbucks di 62 negara.

Selasa, 01 Agustus 2017

Bentar ya. . .



Bentar ya. . .
Saya mau share pengalaman.

Waktu itu papa saya sedang ada dinas ke Yogyakarta. Saat free time pada misah, ada yang nyari oleh-oleh, keliling-keliling, makan, atau sekedar menikmati pemandangan disana. Papa saya udah kelar yang lain-lain, nyari makan di daerah Pajak Bringharjo.

(Pake bahasa jawa kromo)
P: Papa
B: Mbok jualan

 P: Bik, blablabla-nya satu ya!
B: Iyo, kang.

Sambil cerita cerita sama mbok jualannya, papa asal mana, si mbok asal mana, ke yogya ngapain, kok ngerti bahasa jawa kromo, dsb dsb dsb. Btw papa saya pake celana biasa aja bukan jeans atau celana kerja, bajunya juga baju kaos.

Waktu balik ke penginapan cerita-cerita sama kawannya,
KP : Kawan papa.

KP: Abis kemana mas?
P: Makan, sama nyari untuk anak-anak
KP: Makan apa? Berapa kena?
P: Nasi aja di bringharjo, pake ayam, teh manis, lalap, tempe. Sekian belas ribu kena nya.
KP: Loh aku kok mahal kali sampe 60 rban.
P: Makan apa sampean?
KP: Yo sama kayak mas.

Kemungkinannya: makannya ditempat yang memang mahal, atau penjualnya ngeliat si oom pakai baju bagus as high turis jadi dikasi harga lebih tinggi. (Si oom memang pake baju setelan bagus sih, dan dilema emang kalo turis di Indonesia suka dinaikin harganya apalagi turis mancanegara/bule).

Disana memang banyak pekerja/pengusaha sukses siap kerja ngelepas kemeja, cuma pake kaos sambil nenteng tas naik bis umum. (Transjogja nya adem banget euy, kelas ekonominya aja adem banget). Dibeberapa tempat lain, nggak semua, ada yang kemana-mana naik mobil, atau sekedar gamau beli es kelapa pinggir jalan karena takut dikatain, “Gaji sekian kok pergi pergi naik motor.” Atau “Percuma udah (insert kerjaan suksesnya) kok beli jajan pinggir jalan.” Bukan yang memang ngga bisa naik motor yha, atau takut naik motor, atau memang yang kondisinya harus naik mobil seperti harus jemput anak sekolah biar bisa sekalian ma’em/ lagi sakit/ lanjut usia dsb, tapi memang ada beberapa yang takut dengan pandangan masyarakat, takut dikira gak mampu.

Dari beberapa pengalaman saya dapat pelajaran berharga. Masyarakat suka menilai kemampuan seseorang berdasarkan apa yang kelihatan. Dan beberapa orang juga takut kelihatan susah.

Jelas berbeda yha orang yang tampil rapih dan tetap stylish namun tau how-to-behave dengan orang yang mati-matian berusaha stylish tanpa perhitungan dana untuk dikemudian hari.

Orang-orang yang jenis kedua biasanya tetap belanja ini-itu sesuai keinginan style-nya tapi diujung-ujung suka kekurangan untuk menuhi kebutuhan hidup primernya, lebih parahnya lagi kalo sampai ngutang karna mau tampil gaya. Tapi orang-orang jenis pertama tau menempatkan situasi dan pakai pakaian atau makeup apa yang cocok untuk situasi tersebut tanpa harus ‘too hedon’ dan boros-boros.

Saya pernah pas nemenin mama cari bahan bangunan, kami cuma pakai kaos biasa, naik motor, tas seadanya, ya karna memang mau beli bahan bangunan aja bukan kemana-mana. Pas sampai disana dijutekin, terus dateng yang naik mobil langsung disamperin sambil senyum-senyum. Padahal yag naik mobil cuma beli bohlam sebijik dan kami mau beli cukup banyak. 

Pernah juga saat belanja ke Petisah (pajak jual baju di Medan), lagi liat-liat baju anak-anak datang 2 orang ibu-ibu, satu dandanannya oke makeup supertebel gelang cicin di kanan kiri, satu lagi super biasa ajah. Di layani sama orang yang sama tapi perlakuannya beda banget, sama yang ibu-ibu makeup tebel superbaik, dan ibu itu nanya-nanya baju beli satu aja, nawarnya jg setengah mati._. Si ibu-ibu yang biasa aja kesel karna gak dilayanin akhirnya pergi. Kemudian kami ketemu si ibu-ibu yang terlihat biasa ini di toko lain, belinya banyak banget! Mungin lebih selusin, dia bawain contoh baju aja untuk ukuran, 2/3 baju untuk satu ukuran. Katanya sekalian beliin keponakannya. Belinya pun gapakai nawarπŸ˜‚πŸ˜‚ Akhirnya si ibu ini bilang mau langganan dan minta nomor telfon si penjaga toko. Kalau toko sebelumnya tau pasti nyesel ya udah nyuekin pelanggan ini. πŸ˜‚

Tampil gimana aja ya terserah kenyamanan diri sendiri aja, kembali ke diri masing-masing, mau biasa aja, style tinggi, bohemian, muka belang ala zebra and other style what u choose, artikel ini hanya mau nyampein kalau menilai seseorang sebaiknya tidak dari penampilannya aja.

Jadi daripada saya dengerin apa kata orang mending saya dengerin kata papa saya aja. "Jangan takut kelihatan susah, mereka yang terlihat mampu mungkin sebenernya gak lebih mampu daripada mereka yang terlihat biasa aja. Yang penting jujur, gak nyusahin orang lain." Oke sip^^

He
Hehe
Hehehe
Hehehehe